Jumat, 05 Agustus 2016

Endless Friendship

Sekelebat masa-masa pertama kali kita bertemu, lalu menjadi akrab. Berbagi rasa suka dan duka, cerita dan rahasia. Gak peduli anggapan orang miring tentang kamu, nganggep aku kebawa-bawa gak baik.

Semuanya salah besar, mereka hanya gak tahu sisi terdalam kamu, sisi hitam dan putih yang orang pandang sebelah mata, sementara aku bisa melihatnya dengan jelas.

Mungkin itulah mengapa sampai sekarang aku bertahan untuk mau bersahabat denganmu.

Terima kasih untukmu orang yang baru saja kukenal tapi seperti sudah mengenalmu bertahun-tahun yang lalu. Jika diselami kita memang sudah saling mengenal lewat orang-orang yang sama-sama kita kenal dulu.

Kamu memang bukan satu-satunya sahabatku, tapi kamu satu-satunya sahabat yang berani membuatku tidak waras, dan aku sangat menikmati ketidakwarasanku ini.

Semoga sukses di luar sana, see you my best friend, Wiliani Tirta.

Majalengka, 06 Agustus 2016
Regards,
irnari

Minggu, 21 Februari 2016

Cinta berada pada dua insan, bukan sendiri

Untuk apa aku terus berjuang sendiri, sementara yang kuperjuangkan tidak mengulurkan tangan sama sekali untuk membantuku. Jangan kan membantu, menoleh pun tidak.

Untuk apa aku punya mimpi, sementara yang kuperjuangkan bermimpi di tempat lain.

Untuk apa bahagia seorang diri, sementara yang kuperjuangkan tidak merasakan hal yang sama.

Untuk apa aku sedih dan terpuruk, sementara yang kuperjuangkan tertawa bahagia bersama yang lain.

Setiap hari aku selalu berdoa agar perasaan ini segera enyah. Aku tidak ingin memperjuangkan orang yang bukan milikku. Aku berdoa agar perasaan cintaku hanya untuk jodohku saja. Bukan untuk dia..

Dia, dia yang sudah merasa menemukan jodohnya.

Minggu, 28 Juni 2015

DANU I (part 1)

Danu melihat pantulan dirinya yang samar, apa yang ada di hadapannya melintas begitu mudah. Dia tak merasakan apa-apa saat benda-benda keras itu menghantam dirinya. Padahal ia berharap ada sedikit rasa sakit yang bisa mengalihkan rasa sakitnya yang lain. Rasa sakit yang belum bisa hilang. Dibacanya kalimat dalam layar kecil itu berulang-ulang, sampai pandangannya menjadi kabur.
**

"Uangnya ditabung aja, Nu! Uang bulan kemarin yang kamu kasih ke Emak masih ada," kata Emak Nini. Danu yang sedang duduk di samping ibunya sambil menyesap kopi menggeleng pelan.

"Biarlah Mak, buat bayar sekolah Tesa, sebentar lagi kan kuliah." Yang dibicarakan, Tesa, gadis berumur delapan belas tahun itu sedang duduk membaca buku, buku novel kesukaannya. Selepas gajian Danu memang selalu membelikannya sebuah novel, sudah selemari penuh adiknya itu mengoleksi buku-buku novel. Baru beberapa bulan terakhir dia mengetahui kalau adiknya itu selalu membeli novel lagi dengan uang pemberiannya, meskipun sudah diberi jatah dibelikan.

"Untuk itu, Emak sudah punya persiapan. Persiapan sekarang−−harusnya ada di kamu, Nu!" Danu mengernyit bingung, ditaruhnya cangkir kopi yang sudah habis di meja.

"Umurmu sudah hampir kepala tiga. Bekerja sudah delapan tahun. Selalu ingat untuk pulang ke rumah dan bagi-bagi rejeki. Emak sangat senang."

"Tapi, harus kamu tahu, Nu. Emak juga ingin kamu datang kemari bawa seseorang, entah itu bidadari atau bukan, Emak ingin melihatmu menggandeng seseorang, memperkenalkannya pada Emak."

Danu menghela napas pendek, perkataan ibunya sudah tidak asing lagi di telinganya. Sudah dua tahun terakhir ini ibunya selalu mendengungkan hal serupa setiap kali dia pulang, lebih-lebih karena ayahnya sudah tidak ada lagi dunia ini, jadi lebih seringlah ia mendengarnya. Bukan karena dia tidak mau, hanya saja belum ada yang cocok, belum ketemu soulnya, begitu kata pepatah masa kini kebanyakan. Danu menyadari dia sudah cukup mapan untuk berumah tangga, menyekolahkan adiknya hingga lulus SMA pun sudah hampir dipenuhi. Apalagi yang sekarang ia cari? Seperti itulah pasti yang dipikiran ibunya, belum lagi ibunya sudah tua, beliau pasti memimpikan ingin menimang cucu segera.

"Danu sekarang sedang dekat dengan seseorang, Mak." Emak mendelik, wajahnya sumringah tiba-tiba.

"Kapan kau akan membawanya kemari, Nu?"
"Tenang sajalah, Mak. Aku bilang juga masih dekat. Danu juga tidak yakin apa dia masuk kriteria Danu, apa dia mau menerima keluarga ini apa adanya."

Emak menghela napas, bersabar menghadapi anak sulungnya. "Baiklah, terserah kau saja. Tapi jangan berlama-lama, jangan juga gegabah, lakoni dengan hati-hati. Memenangkan hati wanita tidaklah mudah."
**

Tiga bulan yang lalu di perusahaan tempat Danu bekerja, Danu memimpin proyek pelatihan pegawai di kantor cabangnya−−diikuti oleh tiga anak perusahaan lain yang mendaftarkan beberapa pegawainya untuk ikut pelatihan. Salah satu anak perusahaan yang paling baru bernama Express−−yang baru dirintis tiga tahun lalu itu paling banyak mengikutsertakan pegawainya. Maklum, tampaknya proyek ini merupakan kesempatan emas bagi mereka mendapatkan pengalaman matang agar bisa memimpin sendiri perusahaan tempatnya bekerja. Danu yang dipercayai Direkturnya untuk memimpin proyek tersebut ikut mengambil pengarahan kepada peserta training, salah seorang peserta yang membuat Danu terkesima adalah peserta dari anak perusahaan paling bungsu itu. Dia adalah Tina, seorang karyawan HRD yang begitu cerdas dan cekatan, fresh graduated dibandingkan peserta yang lain.

Setelah pulang dari kampung dan mengingat obrolannya dengan Emak yang ingin Danu cepat menikah−Danu langsung menemui Tina di kosannya. Sudah hampir dua bulan berpacaran, mereka tergolong serius, bukan anak remaja lagi yang gaya-gayaan berpacaran. Di malam itu Danu akhirnya mengungkapkan keseriusannya untuk melamar Tina. Tina awalnya sangat senang, dia juga serius ingin menikah dengan Danu kelak.

"Tahun ini?" Tina berjengit terkejut.

"Iya. Tahun ini kita menikah. Aku akan bicara pada orangtuamu. Jadi, kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun," Danu meyakinkan.

"Bukan. Aku tidak mengkhawatirkan soal orangtuaku. Tapi, diri aku sendiri. Aku belum siap untuk tahun ini. Aku masih ingin bekerja, mencapai karir impianku. Aku baru menginjak dua tahun bekerja, Nu. Aku masih butuh bertahun-tahun lagi untuk mengejar karirku."

"Jadi, kamu menolakku?"

"Aku gak menolak kamu. Aku hanya menolak waktunya saja," kata Tina cemas.

"Itu sama aja kamu nolak aku, Tin. Aku inginnya tahun ini. Dan aku gak bisa menunggu," tegas Danu.

"Itu sama aja kamu ngajak kita putus?" Tina berkaca-kaca.

"Bisa jadi seperti itu," jawab Danu parau.

Danu pamit pergi tanpa menoleh lagi pada mantan kekasihnya itu. Dia bukan remaja lagi yang berlama-lama berpacaran, namun ujung-ujungnya tidak ke jenjang pernikahan. Dia butuh kepastian cepat dan tidak mengulur-ulur waktu. Belum habis satu minggu setelah kepulangannya, dan baru dua hari dari kejadian malam kandasnya cinta Danu. Danu menelepon ibunya. Ia bercerita tentang kekasihnya yang diceritakan tempo hari itu.

"Perempuan itu tidak bisa diajak serius, dia masih memilih mengejar karir, tidak ingin menikah dulu, padahal aku dan dia saling menyukai. Apalah artinya Danu, Mak. Danu tidak ingin rela-rela menunggunya, Danu butuh yang maksimal setahun ini siap untuk menikah. Lagipula apa istimewa karirnya Mak, dia hanya karyawan biasa," Danu bersungut-sungut di telepon, mengadu.

"Sabar, Nu. Sebagian perempuan yang sudah bekerja memang seperti itu, mereka juga ingin mengabdi dulu pada keluarganya. Apalagi yang kau ceritakan itu dia baru bekerja dua tahun."

"Iya, Mak. Danu tahu. Danu harus mencari lagi."
**

Hari-hari Danu berjalan dengan sebagaimana mestinya, tak ada pekerjaan yang mandeg ataupun pribadi Danu sendiri yang leha-leha. Dia tidak mengambil pusing, tidak merana karena jadi jomblo. Hidupnya selalu optimis, dia percaya daya pikatnya tinggi. Perempuan mana yang tidak akan berbelok ke arahnya, tanpa dicari dia akan datang dengan sendirinya. Seperti yang terjadi setelah satu minggu putusnya dengan Tina, Danu berkenalan dengan seorang wanita muda yang cantik dan siap menikah. Wanita itu bernama Wulan. Sebenarnya, Danu sudah mengenal Wulan lama dari setahun yang lalu ketika dia ditugaskan perusahaannya untuk melakukan perjalanan dinas bersama anak perusahaan lain yang menugaskan Wulan. Dari situ mereka saling mengenal, namun tidak dekat-dekat amat. Wulan orangnya memang tidak sesupel Tina, tapi pribadinya jauh lebih dewasa dibandingkan mantan pacarnya itu.

Genap satu bulan, Danu kembali menelepon ibunya. Sudah lama tidak menelepon, ia pun menanyakan kabar ibu dan adiknya. Lalu percakapan melebar saat Danu kembali mengadu soal kekasih barunya.

"Dia setuju aku menimangnya, walaupun kami baru mengenal. Sayangnya, dia anak sulung juga sepertiku, adiknya empat. Masih kecil-kecil. Harus disekolahkannya, karena ayahnya sudah pensiun. Akhirnya aku dan dia berakhir saja, diapun menerima dengan lapang dada, meski dari air mukanya dia tampak sangat sedih."

Emak menghela napas sejenak sebelum akhirnya berkata, "Sabar, Nu. Perempuan sulung memang seperti itu, apalagi dia punya adik. Sama sepertimu dulu."

"Lalu, aku harus mencari lagi, Mak."
**

Beberapa bulan Danu tidak pulang kampung ke rumah, hanya sekedar menyapa saja di telepon dan mentransfer uang seperti biasa, meskipun lagi-lagi Danu berkilah itu untuk modal Tesa kuliah. Tapi sebenarnya, Emak menyimpannya untuk modal menikah Danu kelak. Karena dilihat dari keseharian anak sulungnya itu, meskipun jauh dan hanya pulang satu bulan sekali, setiap gajian pasti selalu membawa oleh-oleh, barang-barang yang dimilikinya pun selalu baru. Danu memang anak yang sangat menjaga sekali penampilannya. Itu pantas saja baginya karena dulu waktu masih remaja−−pribadinya tidak bisa semewah sekarang. Dia dibesarkan dari keluarga yang pas-pasan.

"Mak, abang pulang gak hari ini? Tesa pengin nagih janjinya beliin novel dari penulis terkenal itu, yang hampir semua novelnya dijadiin film itu loh, Mak. Emak tahu gak?"

Emak tersenyum menggeleng sambil ditaruhnya piring yang sudah berisi lauk pauk di meja. Sementara, Tesa menghembuskan napas pendek, beringsut, lalu duduk untuk makan malam bersama ibunya.
**

Danu memacu motornya cepat lalu berhenti sembarangan di pinggir jalan dekat taman kota. Udara malam Jakarta terasa sangat panas, lebih terasa panas lagi karena beberapa menit yang lalu ia telah bertemu seorang kenalan yang dikenalkan teman sekantornya sebulan terakhir lewat BBM. Dari ceritanya sih meyakinkan kalau perempuan yang akan dikenalkannya itu cantik, mapan, dan yang terpenting sudah siap menikah. Dari obrolan chatting lewat BBM pun tidak perlu diragukan lagi. Setengah jam yang lalu, Danu melihatnya juga cukup tertarik, tapi saat tahu perempuan itu lebih tua darinya beberapa tahun, perasaannya menciut, mendadak ada sekat yang membuatnya jadi sungkan terhadap perempuan dewasa di depannya itu. Dia beringsut pamit, beralasan harus segera pulang karena ibunya sakit.

"Titip salam buat ibumu ya, semoga lekas sembuh," kata wanita itu. Danu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, sangat disayangkan perempuan sebaik dia tidak memenuhi satu poin kriterianya. Seharusnya dari awal dia memberitahu temannya kalau usia juga sangat penting. Sudahlah, tidak ada yang perlu disesalkan, perkenalan ini anggap saja silaturahmi memperluas pergaulan. Merasa sudah terlanjur menyebut-nyebut nama ibu untuk mengalihkan perhatian wanita itu agar dia bisa pulang, Danu akhirnya memutuskan menelepon ibunya. Setelah menanyakan kabar selama beberapa bulan terakhir dan minta maaf belum bisa pulang dekat-dekat ini, Danu bercerita soal calonnya itu, kekasih yang dikenalnya di dunia maya.

"Dia terlalu tua, Mak. Danu masih pantas berdampingan dengan yang lebih muda. Gampanglah nanti Danu cari lagi."

"Sabar, Nu. Jangan lupa terus berdoa agar diberi kelancaran mencari jodoh."

"Iya, Mak."

"Jangan tinggalkan shalat lima waktu." Emak menutup teleponnya.

Tesa yang sedang duduk di sebelah ibunya, menilik ibunya dan berkata, "Bang Danu mau nyari calon yang umurnya berapa tahun sih, bu? Seumur Tesa? Kan gak mungkin. Perempuan-perempuan seumur abang juga pasti sudah menikah. Carinya yang berapa tahun lebih muda sih...," Tesa garuk-garuk kepala. Emak tersenyum, tidak menanggapi karena putri satu-satunya itu tidak akan mau berhenti mengalah untuk berdebat, apalagi perbincangan sensitif seperti ini.
**

Di sore hari, ketika Tesa dan ibunya sedang duduk-duduk di teras menikmati siang yang mulai meneduh. Sepeda motor berhenti di depan rumah. Laki-laki berpengawakkan sedang, seumur Danu membawa paket untuk diserahkan pada Tesa.

"Asik, paket buku dari bang Danu datang," seru Tesa setelah kurir itu pergi, yang sebelumnya sempat berbincang dengan ibu.

"Emak ngobrol apaan sih sama kurir tadi, emang kenal ya?"

"Cuma bilang terima kasih," Emak tersenyum.

"Cuma itu doang? Kok kedengarannya panjang," Tesa menggosok kupingnya.

"Hayo, kamu nguping ya?" Tesa nyengir.

"Emak cuma kangen. Melihat orang tadi yang seumuran dengan abangmu itu−mengingatkan Emak dengan abangmu yang masih saja betah melajang."

"Dia bekerja untuk menafkahi istri dan anaknya."

Tesa membulatkan bibirnya, lalu berkomentar lagi, "Tahu nih, teman abang yang di RT sebelah aja anaknya udah dua."

Emak menyunggingkan senyum, merangkul Tesa mengajaknya masuk ke dalam. Ucapan Tesa tadi benar sekali, Emak jadi teringat beberapa teman sebaya Danu di desanya sudah banyak yang menikah. Tetangganya selalu bertanya-tanya kapan Danu menikah. ‘Mau gak anak ibu jadi calon menantu saya?' Begitu setiap kali berpapasan di jalan atau sedang belanja ke warung. Bukan karena tidak memberi kesempatan atau menyombongkan diri, Emak selalu menyerahkan pasangan hidup pada anaknya sendiri. Jika memang Danu ingin dijodohkan, toh pasti dia akan bilang. **

Setelah satu bulan dari telepon terakhir yang menceritakan calon yang terlalu tua itu, Danu akhirnya pulang. Dengan memakai motor gede yang baru dibelinya awal tahun ini. Emak memeluk erat, melepas rindu dengannya. Wangi parfum khas yang kasual itu tercium hangat di hidung Emak. Sementara Tesa iseng melirik ke belakang barangkali ada perempuan yang diajak abangnya. Namun, nihil.

"Sehat kau, Nu?"

"Sehat, Mak."

"Bocah ini gimana kabarnya?" Danu mengacak-acak rambut Tesa, yang langsung disemprot cibir adiknya itu.

Seperti sudah jadi ritual setiap kali pulang, duduk-duduklah keluarga kecil itu di teras belakang, menghadap kebun kecil tempat di tanamnya singkong dan ubi jalar.

"Sekarang Danu sudah tidak dekat lagi dengan siapa-siapa, Mak," Danu menarik napas berat menyandarkan diri di kursi.

Emak yang sedang mengaput baju bolong Tesa tersenyum, menghentikan aktivitasnya tersebut.

"Danu mau cari yang dekat-dekat sini sajalah, perempuan-perempuan kota banyak maunya. Kalau jadipun, entah mau atau tidak diajak ke kampung."

"Terserah kamu aja, Nu. Emak sih mendukung saja pilihanmu. Asalkan mau menerima keluarga kita apa adanya dan kalau bisa sih yang bekerja juga, tapi tidak gila bekerja."

"Cari di sini banyak, Bang," Tesa ikut berbaur, tak lepas buku novel di tangannya.

"Teh Meri tuh−−yang baru lulus kuliah tahun kemarin sekarang jadi guru SD. Orangnya cantik, sholeh lagi−pake hijab. Abang tahu kan orangnya? Dulu gebetannya temen-temen abang di sini."

Danu mendelik ke arah Tesa, rupanya adiknya ikut memikirkan masalah percintaannya. Dengan gaya cool sebagai seorang kakak, Danu menyuruh Tesa untuk melanjutkan membaca novelnya saja. Tesa yang sedang berdiri di ambang pintu berjengit kesal, sedikit menyesal sudah keluar. Kenapa dia tidak boleh ikut bicara sih, bukankah dia sudah cukup umur untuk tahu semuanya, dia sudah delapan belas tahun, sudah resmi jadi mahasiswa. Dengan membuka lagi halaman yang diselip bookmark, Tesa kembali membaca novel romance populer favoritnya.

"Benar kata adikmu. Coba saja kau dekati Meri, dia gadis yang baik. Sering lewat ke rumah dan menyapa Emak kalau lagi di luar."

Tesa yang dibilang benar oleh ibu, tersenyum lebar dengan kepalan tangan 'yes' di batinnya.

"Tapi Danu belum kenal secara resmi, Mak. Hanya tahu saja, dia juga mungkin begitu. Gimana Danu bisa deketin dia?" Danu mendesah bimbang.

"Emak akan coba dekati orangtuanya, kita sering bertemu di warung dan pengajian setiap jumat sore. Jangan khawatir soal itu, Insya Allah semua akan lancar," jawab Emak tenang.
**

Sabtu, 23 Mei 2015

Aku pada-Mu

Aku selalu membutuhkan-Mu dalam setiap udara yang kuhirup.
Aku sering banyak meminta padahal sudah banyak yang Engkau berikan.
Aku kadang lupa bagaimana caranya untuk bersyukur.
Aku kadang bersikap tak tahu terima kasih hingga aku jadi jauh dari-Mu.
Aku melakukannya seakan-akan ingin memenuhi nafsu belaka.
Kesenangan sesaat.
Namun, ketika mendapat masalah aku bersujud pada-Mu. Berdoa, bertanya-tanya.. inikah cobaan-Mu? Padahal, dalam kelas-Mu saja aku sering membolos, tidak patuh.. bagaimana bisa aku mendapatkan ujian atau cobaanmu?
Tapi, Engkau dengan berbaik hati masih memberiku kesempatan, memberi kelas dan pelajaran baru untukku mendapat petunjuk ke jalan yang benar.
Meskipun dengan tertatih-tatih, aku mencoba memperbaiki diri.
Terima kasih atas semua yang telah Engkau berikan.
Terima kasih atas kesempatan ini.
Terima kasih.

Untuk sahabat yang akan melepas lajang

Untuk sahabat-sahabatku yang satu per satu telah melepas lajang. Aku tidak pernah menyangka atau bahkan menyadari saat usiaku masih belia tak terbesit pun angan-angan menjadi orang dewasa.

Bahkan saat pertama kali mengalami jatuh cinta, aku tidak pernah tahu akan seperti apa muara cinta itu.

Di sekitarku, teman-teman maupun sahabat berbagi suka dan dukanya karena cinta, seakan-akan mereka sudah menjadi orang dewasa dan tahu tujuannya.

Tapi semua itu terasa manis saat ini dibandingkan dulu. Semuanya berkesan dan penuh pembelajaran, walau hanya sekedar permainan.

Regards,

irnari

Sabtu, 02 Mei 2015

Mau buku gratis?!

Sama seperti judulnya, saya akan kasih buku gratis buat kamu.. caranya klik blog buku saya di sini

Semoga beruntung^^
Dan selamat berakhir pekan di awal bulan Mei 2015!!

@irnari

Senin, 27 April 2015

Books for Sale

Halo...
Untuk mengurangi sesak di rak buku, saya akan menjual buku-buku bekas maupun baru dengan harga lebih murah. Berikut ini list-nya:

1. Ai by Winna Efendi, Rp 30.000, second, lepas segel, masih mulus, dan disampul plastik.

2. Last Minute in Manhattan by Yoana Dianika, Rp 27.500, second, lepas segel, masih mulus, disampul plastik, ada nama di halaman depan.

3. The Devil in Black Jeans by aliaZalea, Rp 32.000, second, lepas segel, masih mulus, ada sedikit bercak kuning, disampul plastik, ada nama di halaman depan.

4. Restart by Nina Ardianti, Rp 30.000, second, lepas segel, masih mulus, disampul plastik, ada nama di halaman belakang.

5. Brisingr by Christopher Paolini, Rp 60.000, masih baru dan bersegel.

6. Twenties Girl by Sophie Kinsella, Rp 30.000, masih baru dan bersegel.

7. Skenario Dunia Hijau by Sitta Karina, Rp 8.000, second, masih mulus, disampul plastik.

8. For One More Day by Mitch Albom, Rp 25.000, masih baru dan bersegel.

9. Scandal in Spring by Lisa Kleypas, Rp 30.000, masih baru dan bersegel.

10. Confessions of a Shopaholic by Sophie Kinsella, Rp 35.000, masih baru dan bersegel.

Order kontak via whatsapp 089660895302 atau email ji.books@yahoo.com
Transfer via BRI/BCA.
Paket dikirim via JNE.

*untuk melihat kondisi buku bisa lihat di Instagram @JiBooks

Selamat berbelanja dan membaca^^